Jadwal solat

Saturday, January 5, 2013

Pelatihan BTCLS Yayasan Ambulan Gawat Darurat 118 Jakarta oleh Ners Unsoed


LATAR BELAKANG
Perawat menjadi lini terdepan dalam pelayanan kesehatan salah satunya dalam penanganan kegawatdaruratan. Kejadian kegawatdaruratan makin meningkat sesuai dengan angka kecelakaan dan kejadian serangan jantung terus meningkat di Indonesia. Agar seorang perawat dapat melakukan pertolongan yang tepat dan cepat terhadap pasien gawat darurat, seorang perawat memerlukan keahlian khusus yang diperoleh melalui pelatihan yang sesuai. Salah satu bentuk pelatihan untuk keperawatan gawat darurat adalah Basic Trauma and Cardiac Life Support (BTCLS). Pelatihan ini bertujuan untuk membekali perawat dalam hal pengetahuan dan keterampilan menolong pasien dalam keadaan darurat. Oleh karena itu, kami mengundang rekan-rekan mahasiswa dan perawat untuk ikut serta dalam pelatihan ini.

PELAKSANAAN
Hari Selasa - Sabtu
Tanggal 26 Februari - 2 Maret 2013 di Aula Lt. 3 Gedung Dekanat Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan UNSOED Purwokerto.

PESERTA
·         Terbatas untuk 32 orang Perawat, Mahasiswa, maupun Bidan
·         Bersedia mengikuti pelatihan sampai dengan selesai

MATERI PELATIHAN

1.     Hari ke 1: Selasa, 26 februari 2013
a.    Sistem penanggulangan gawat darurat terpadu
b.    Initial assesment
c.     Shock management
d.    Trauma thorax dan abdomen

2.     Hari ke 2: Rabu, 27 februari 2013
a.    Electrocardiografi
b.    Aritmia lethal
c.     Infark miokard
d.    Trauma kepala dan cidera spinal
e.    Trauma muskuloskeletal
f.     Luka bakar
g.    Skill staion

3.     Hari ke 3: Kamis, 28 februari 2013
a.    Trauma pediatrik, ibu hamil dan geriatri
b.    Biomekanika trauma
c.     Keracunan dan gigitan binatang berbisa
d.    Ekstrikasi, stabilisasi dan transportasi
e.    Triage
f.     Skill station

4.     Hari ke 4: Jumat, 1 maret 2013
a.    Algoritma aritmia lethal
b.    Praktikum (Spinal cord injuri, Trauma muskuloskeletal, Ujian rjp, Dc shock)

5.     Hari ke 5: Sabtu, 2 maret 2013
Ujian


PENDAFTARAN & BIAYA
1.      Pendaftaran dapat menghubungi contact person a.n Irwan Sigit Pradipta No. HP (085642467399) atau datang ke sekretariat panitia.
2.      Pendaftaran ditutup tanggal 10 Februari 2013 atau sampai kuota terpenuhi.
3.      Pendaftar dapat melakukan pemesanan tempat dengan membayar DP sebesar Rp 300.000 (Tiga Ratus Ribu Rupiah).
4.      Biaya pelatihan setiap peserta sebesar Rp 2.100.000,- (Dua Juta Seratus Ribu Rupiah).
5.      Pembayaran :
·         Transfer ke Bank BNI 46 Cab. Unsoed Purwokerto a.n Irwan Sigit Pradipta No. Rek: 015 77355 83.
·         Membayar langsung di sekretariat panitia.
6.      Menyerahkan berkas saat registrasi ulang berupa :
·         Bukti pembayaran
·         Formulir pendaftaran
·         Pas photo 4x6 latar belakang merah (2 lembar)
·         Fotokopi ijazah terakhir



SEKRETARIAT PANITIA
Sekretariat BEM KMJK UNSOED Kampus Keperawatan UNSOED Kompleks GOR Soesilo Soedarman Karangwangkal Grendeng Purwokerto Utara

FASILITAS
Modul pelatihan, Kaos, ID Card, Map, Block Note, Bolpoint, Snack & Makan, Sertifikat AGD 118 Terakreditasi PPNI Pusat & Sertifikat Pusdiklat Kemenkes.

CONTACT PERSON
Irwan Sigit Pradipta, S.Kep (085642467399)


selengkapnya klik disini 



Monday, April 16, 2012

Mau mencoba, keharusan bagi yang ingin bisa

Jadi tahu sesuatu bisa dengan banyak cara. Jadi tahu dengan melihat. Jadi tahu dengan membaca. Jadi tahu dengan bertanya. Namun mereka yang tahu belum tentu bisa. Terlebih dalam hal ketrampilan. Karena hal itu butuh latihan, bukan hanya sekali. Tapi berulang-ulang. Oleh karena itu, untuk menjadi bisa, kuncinya adalah mau untuk mencoba. Dalam proses mencoba wajarlah ada salah. Toh yang sudah bisa pun kadang masih melakukan kesalahan. “Mau untuk mencoba”. Begitulah tiga kata yang seringkali terdengar diruangan, baik oleh perawat pelaksana, pembimbing, sampai karu pun sering mengucapkan itu pada kami (mahasiswa ners) yang sedang praktik disana.

Kalimat pembuka itu menjadi awal penyadaran bahwa yang namanya ingin bisa maka mau gk mau haruslah mencoba.

Mencoba dan hasilnya

Pernah saat itu masih jaga di ruang lavender, ada pasien lansia. Usianya sekitar 60-70-an tahun. Dia seorang perempuan. Sebut saja mbah M. Ketika itu aku dan beberapa perawat ruangan sedang melakukan rutinitas injeksi obat ke pasien. Dan pada saat itu pula, infus Mbah M macet, terlihat darah mbah M menggumpal di dalam selang dekat dengan tempat injeksi intra selang. Daerah sekitar itu pun basah dengan rembesan cairan yang mengindikasikan bahwa posisi infus harus diganti.

Akhirnya aku dan salah seorang perawat ruangan. Sebut saja mbak T namanya, segera menyiapkan infus set untuk mbah M. Hanya bebrapa menit peralatan pun sudah siap, tinggal memasangnya saja di tangan kanan mbah M. Sebentar saja dicari sudah kelihatan vena yang akan di tusuk. Memasang infus adalah satu ketrampilan yang sedikit langka di ruangan, karena sebagian besar pasien sudah terpasang infus dari IGD. Melihat kesempatan itu, maka aku pun berniat untuk mencoba. Aku meminta mbak T untuk aku saja yang mencoba memasangnya. This is the first time for me (bissmillahirrokhmanirrokhim), dan jarum pun masuk menembus vena mbah M. Sebagai seorang amatir,hehe aku sedikit kesusahan untuk menarik jarumnya agar yang benar-benar masuk kedalam vena adalah jarum yang plastik. Dengan pelan aku coba tarik, dan belum selesai aku tarik, vena mbah M pecah. Tampak benjolan disekitar vena yang tadi aku tusuk. Sambil aku pencet dengan kapas alkohol, sontak aku tanya ke mbah M. Mbah sakit mboten? (mbah sakit apa tidak?) Dan jawabannya adalah : nggih sakit, tapi mboten nopo-nopo sing penting mantun (ya sakit, tapi gk apa-apa, yang penting sembuh). Mendengar jawaban itu, aku mencoba kesempatan yang kedua. Dan hasilnya gagal lagi. Saat aku tanya lagi, mbah M pun menjawab dengan jawaban yang sama dna bahkan melempar senyum pada kami. Kepolosan mbah M dan jawaban yang diucapkannya membuatku merasakan betapa sungguh beruntungnya aku. Dalam proses mencobaku yang akhirnya gagal tidak kemudian membuat mbah M kecewa dengan apa yang aku lakukan. Mbah M begitu pasrah menerima apa yang terjadi, aku pun menjadi semakin yakin bahwa selama niat baik yang menjadi dasar. Maka segala sesuatunya pun akan menjadi baik pula, meskipun hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Tapi proses yang kemudian membuat hasil itu menjadi bukan satu tujuan primer, melainkan sebuah akhir dari satu proses yang dilandasi niat baik. Selama mempraktikan nasehat “mau untuk mencoba” pun aku menjadi semakin memandang aspek bahwa yang menjadi objek tindakan adalah manusia yang akan merespon berbagai bentuk stimulasi yang diberikan. Respon yang dimunculkan pun akan berbeda-beda, tidak dapat diprediksi.

Dan pada akhirnya, mau untuk mencoba adalah satu keharusan bagi siapa saja yang ingin bisa (tidak hanya sekadar tahu).

#setelah sift pagi di dahlia : bangsal bedah

Thursday, April 12, 2012

Berganti ruang, berkutat dengan GB di Menur

Perjalanan terus berlanjut di Menur. Ruang kelas 1 dan 2, isinya pasien bedah, dari mulai kasus KKL sampai penyakit dalam seperti BPH dan kawan-kawan. Beruntung bagi yang sift pagi, karena kebagian tindakan GB alias ganti balut,hehe Aku pun terbiasa sarapan pagi dengan buka luka dan bersihin luka. Sayangnya tidak ada satu pun pasien yang menderita luka hari, yang butuh di GB,hehe Adanya luka operasi, amputasi, sampai luka infeksi yang penuh dengan cairan berwarna hijau dengan aroma khasnya. Lokasi lukanya macem-macem, ada yang di kepala, dada, kaki, tangan sampai pada bagian genital.

Yang baru, tentang tampon

Ada beberapa pasien yang terpasang tampon dibagian yang luka. Tampon itu berbentuk tali panjang dari kasa gulung steril yang dimasukkan ke dalam luka pasien. Biasanya di pasang pada luka yang berlubang untuk menutup bagian yang berlubang. Keterampilan menggunakan pinset akan membantu pemasangan tampon. Dan oh ya, jangan lupa menganjurkan pasien untuk melakukan teknik relaksasi bisa nafas dalam atau teknik yang lain. Karena sakinya luar biasa.

Bolak-balik IBS

Selain GB dan tindakan yang lain, rutinitas lain sift di Menur adalah bolak-balik IBS. IBS itu instalasi bedah sentral atau tempat operasi pasien. Semakin banyak paien di Menur maka semakin sering juga bolak-balik ke IBS, baik nganter pasien operasi atau nganter pasien ke ruangan lagi setelah operasi. Jarak IBS ke Menur itu dari ujung ke ujung, bisa dibayangkan capeknya seperti apa,hehe

Rutinitas yang lainnya hampir sama dnegan ruang lain, mulai dari bongkar pasang infus sampai proses dokumentasi status pasien,...

Menur : ruang kelas 1 dan 2, pasien bedah.