Jadwal solat

Monday, February 11, 2013

Hari Terakhir Memakai Si Biru

Pagi ini, masih seperti pagi-pagi yang lalu. Melihat kamarku masih kecil, masih berada paling dekat dengan masjid dibanding kamar teman satu kontrakanku yang lain. Suasana luar juga masih sama. Pagi yang lengang. Purwokerto yang bebas macet, minim polusi. Meskipun kondisi sekeliling masih sama, namun pagi ini akan berbeda. Karena pagi ini adalah hari terakhirku memakai si biru. Tepat seminggu sebelum berakhirnya stase integratif yang itu adalah stase terakhir pendidikan profesi Nersku.

Si biru adalah seragam profesiku. Si biru ini berbeda dan menjadi pembeda dari kebanyakan institusi yang tetap memilih si putih menjadi penanda almamaternya. Si biru ini seragam yang diidam-idamkan banyak mahasiswa reguler yang masih menjalani pendidikan s1. Masih ingat saat itu, siang hari di kampus. Beberapa orang mahasiswa profesi yang itu adalah kakak kelasku datang ke kampus berseragam biru. Entah kenapa si biru menjadikan aura yang memakai menjadi lebih positif. Menjadikanku yang waktu itu masih menjadi mahasiswa s1 ingin cepat lulus dan segera memakainya.

Dan apa yang kurasakan dulu ternyata benar. Saat memakai si biru, rasanya tambah yakin aja. Semacam melakukan perawatan jenazah di malam hari, sift malam yang mengharuskan monitoring pasien kritis, merawat ulkus diabetikum atau cancer. Semua itu dilakukan tanpa rasa ragu atau pun takut. Selain sudah jadi tugasku untuk merawat hal semacam itu, si biru benar-benar menjadikan keyakinanku bertambah dan keragu-raguan semakin berkurang.

Memang, ada masa dimana keyakinan itu menurun. Namun hal itu lebih disebabkan karena ilmu dan pengalaman yang masih belum mumpuni. Terlebih untuk tindakan-tindakan spesifik yang mungkin saat kuliah diajarkan namun karena kurang memperhatikan atau lupa jadi saat dihadapkan pada kondisi nyata yang muncul malah keragu-raguan. Dan dalam kondisi itu, moto jangan takut untuk bertanya menjadi kunci untuk mengatasinya

Sedikit fotoku bersama si biru, karena tidak semua momen dapat diabadikan. Terlebih saat praktik di rumah sakit. Banyak hal yang tidak patut diabadikan, apalagi yang berkaitan dengan pasien. Karena privasi adalah hal utama yang patut dijaga. Meskipun demikian, cukuplah ingatanku dan sedikit foto bersama si biru menjadi kenangan, mengisi lembar masa kuliahku di Keperawatan UNSOED.

Di depan sana, semoga ada si biru si biru lain yang bukan hanya menjadi pembeda namun juga menjadikan tambahan suntikan keyakinan. Wish me succes...


Regards,

Saturday, February 9, 2013

Sehat Bersama Lansia Linggasari

Setiap orang akan menjadi tua (proses aging), tapi tidak semua diberi karunia sampai pada masa lanjut usia (lansia). Seperti apa wajah kita pada masa lansia sedikit banyak akan dipengaruhi pola hidup di waktu muda. Tidak sedikit lansia yang mengalami penurunan kualitas hidup. Penyebabnya, bisa karena faktor biologi, psikologi, sosial, kultural, atau ekonomi yang menimpanya. Bagi yang mekanisme kopingnya negatif, berdiam diri di rumah tanpa aktivitas adalah pilihannya.
Namun, tidak demikian kondisi lansia di Linggasari sebuah Desa di wilayah Kecamatan Kembaran Banyumas. Linggasari adalah desa binaan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman untuk praktik stase komunitas dan integratif. Tingkat pendidikan yang sebagian besar SD tidak membuat lansia Linggasari mengabaikan kesehatannya. Terbukti dengan terbentuknya Posyandu lansia "Berseri"  oleh mahasiswa, pemerintah desa dan warga pada November 2011 lalu. Kegiatan awal posyandu dihadiri oleh 33 lansia. Seiring berjalannya waktu, posyandu kian mendapat perhatian lansia Linggasari. Kegiatan yang dilaksanakan rutin setiap jumat ini masih sebatas pemeriksaan tekanan darah, pengukuran berat badan dan tinggi badan, senam, dan penyuluhan kesehatan. Karena titik tekan posyandu adalah upaya pencegahan, namun tidak jarang lansia yang datang ke Posyandu berharap mendapatkan tindakan pengobatan. Untuk menjawab permasalahan itu, Lansia yang demikian dianjutkan untuk periksa langsung ke PKD (Pos Kesehatan Desa) yang kebetulan berada satu kompleks dengan tempat pelaksanaan posyandu lansia.
Ini adalah beberapa foto kegiatan posyandu lansia "Berseri" -Bersama Sehat Setiap Hari-







Regards,..

Belajar Etika Menulis Email (EME)

Dear Reader,

Email adalah media komunikasi yang tidak asing lagi bagi kita, terutama mahasiswa. Seringkali email ini menjadi media konsultasi tugas, skripsi, atau laporan praktik ke dosen. Bahkan bagi yang sering menjadi panitia di kampus, email ini menjadi hal penting unutk menghubungi pembicara atau narasumber kegiatan yang akan dilakukan. Sesama mahasiswa pun seringkali saling tukar atau saling kirim tugas maupun informasi melalui email.

Nah, seperti halnya komunikasi langsung, dalam ber-email juga ada etika atau tata caranya. Hal ini penting agar sopan santun tetap terjaga terlebih untuk hal yang bersifat resmi.
Kalau ingin tahu lebih banyak jangan sungkan klik link ini
Bagi yang suka menyingkat istilah seperti saat sms-an, dalam ber-email juga dikenal singkatan umum (common acronyms) yang beberapa juga dipakai saat sms-an. Seperti gambar di bawah ini ni,...

Sumber : Klik











Contoh Email
 











Semoga bermanfaat, selamat ber-email ria yang sopan dan beretika (emot smile)

Regards,
Faisalao Candra W.

Saturday, January 5, 2013

Pelatihan BTCLS Yayasan Ambulan Gawat Darurat 118 Jakarta oleh Ners Unsoed


LATAR BELAKANG
Perawat menjadi lini terdepan dalam pelayanan kesehatan salah satunya dalam penanganan kegawatdaruratan. Kejadian kegawatdaruratan makin meningkat sesuai dengan angka kecelakaan dan kejadian serangan jantung terus meningkat di Indonesia. Agar seorang perawat dapat melakukan pertolongan yang tepat dan cepat terhadap pasien gawat darurat, seorang perawat memerlukan keahlian khusus yang diperoleh melalui pelatihan yang sesuai. Salah satu bentuk pelatihan untuk keperawatan gawat darurat adalah Basic Trauma and Cardiac Life Support (BTCLS). Pelatihan ini bertujuan untuk membekali perawat dalam hal pengetahuan dan keterampilan menolong pasien dalam keadaan darurat. Oleh karena itu, kami mengundang rekan-rekan mahasiswa dan perawat untuk ikut serta dalam pelatihan ini.

PELAKSANAAN
Hari Selasa - Sabtu
Tanggal 26 Februari - 2 Maret 2013 di Aula Lt. 3 Gedung Dekanat Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan UNSOED Purwokerto.

PESERTA
·         Terbatas untuk 32 orang Perawat, Mahasiswa, maupun Bidan
·         Bersedia mengikuti pelatihan sampai dengan selesai

MATERI PELATIHAN

1.     Hari ke 1: Selasa, 26 februari 2013
a.    Sistem penanggulangan gawat darurat terpadu
b.    Initial assesment
c.     Shock management
d.    Trauma thorax dan abdomen

2.     Hari ke 2: Rabu, 27 februari 2013
a.    Electrocardiografi
b.    Aritmia lethal
c.     Infark miokard
d.    Trauma kepala dan cidera spinal
e.    Trauma muskuloskeletal
f.     Luka bakar
g.    Skill staion

3.     Hari ke 3: Kamis, 28 februari 2013
a.    Trauma pediatrik, ibu hamil dan geriatri
b.    Biomekanika trauma
c.     Keracunan dan gigitan binatang berbisa
d.    Ekstrikasi, stabilisasi dan transportasi
e.    Triage
f.     Skill station

4.     Hari ke 4: Jumat, 1 maret 2013
a.    Algoritma aritmia lethal
b.    Praktikum (Spinal cord injuri, Trauma muskuloskeletal, Ujian rjp, Dc shock)

5.     Hari ke 5: Sabtu, 2 maret 2013
Ujian


PENDAFTARAN & BIAYA
1.      Pendaftaran dapat menghubungi contact person a.n Irwan Sigit Pradipta No. HP (085642467399) atau datang ke sekretariat panitia.
2.      Pendaftaran ditutup tanggal 10 Februari 2013 atau sampai kuota terpenuhi.
3.      Pendaftar dapat melakukan pemesanan tempat dengan membayar DP sebesar Rp 300.000 (Tiga Ratus Ribu Rupiah).
4.      Biaya pelatihan setiap peserta sebesar Rp 2.100.000,- (Dua Juta Seratus Ribu Rupiah).
5.      Pembayaran :
·         Transfer ke Bank BNI 46 Cab. Unsoed Purwokerto a.n Irwan Sigit Pradipta No. Rek: 015 77355 83.
·         Membayar langsung di sekretariat panitia.
6.      Menyerahkan berkas saat registrasi ulang berupa :
·         Bukti pembayaran
·         Formulir pendaftaran
·         Pas photo 4x6 latar belakang merah (2 lembar)
·         Fotokopi ijazah terakhir



SEKRETARIAT PANITIA
Sekretariat BEM KMJK UNSOED Kampus Keperawatan UNSOED Kompleks GOR Soesilo Soedarman Karangwangkal Grendeng Purwokerto Utara

FASILITAS
Modul pelatihan, Kaos, ID Card, Map, Block Note, Bolpoint, Snack & Makan, Sertifikat AGD 118 Terakreditasi PPNI Pusat & Sertifikat Pusdiklat Kemenkes.

CONTACT PERSON
Irwan Sigit Pradipta, S.Kep (085642467399)


selengkapnya klik disini 



Monday, April 16, 2012

Mau mencoba, keharusan bagi yang ingin bisa

Jadi tahu sesuatu bisa dengan banyak cara. Jadi tahu dengan melihat. Jadi tahu dengan membaca. Jadi tahu dengan bertanya. Namun mereka yang tahu belum tentu bisa. Terlebih dalam hal ketrampilan. Karena hal itu butuh latihan, bukan hanya sekali. Tapi berulang-ulang. Oleh karena itu, untuk menjadi bisa, kuncinya adalah mau untuk mencoba. Dalam proses mencoba wajarlah ada salah. Toh yang sudah bisa pun kadang masih melakukan kesalahan. “Mau untuk mencoba”. Begitulah tiga kata yang seringkali terdengar diruangan, baik oleh perawat pelaksana, pembimbing, sampai karu pun sering mengucapkan itu pada kami (mahasiswa ners) yang sedang praktik disana.

Kalimat pembuka itu menjadi awal penyadaran bahwa yang namanya ingin bisa maka mau gk mau haruslah mencoba.

Mencoba dan hasilnya

Pernah saat itu masih jaga di ruang lavender, ada pasien lansia. Usianya sekitar 60-70-an tahun. Dia seorang perempuan. Sebut saja mbah M. Ketika itu aku dan beberapa perawat ruangan sedang melakukan rutinitas injeksi obat ke pasien. Dan pada saat itu pula, infus Mbah M macet, terlihat darah mbah M menggumpal di dalam selang dekat dengan tempat injeksi intra selang. Daerah sekitar itu pun basah dengan rembesan cairan yang mengindikasikan bahwa posisi infus harus diganti.

Akhirnya aku dan salah seorang perawat ruangan. Sebut saja mbak T namanya, segera menyiapkan infus set untuk mbah M. Hanya bebrapa menit peralatan pun sudah siap, tinggal memasangnya saja di tangan kanan mbah M. Sebentar saja dicari sudah kelihatan vena yang akan di tusuk. Memasang infus adalah satu ketrampilan yang sedikit langka di ruangan, karena sebagian besar pasien sudah terpasang infus dari IGD. Melihat kesempatan itu, maka aku pun berniat untuk mencoba. Aku meminta mbak T untuk aku saja yang mencoba memasangnya. This is the first time for me (bissmillahirrokhmanirrokhim), dan jarum pun masuk menembus vena mbah M. Sebagai seorang amatir,hehe aku sedikit kesusahan untuk menarik jarumnya agar yang benar-benar masuk kedalam vena adalah jarum yang plastik. Dengan pelan aku coba tarik, dan belum selesai aku tarik, vena mbah M pecah. Tampak benjolan disekitar vena yang tadi aku tusuk. Sambil aku pencet dengan kapas alkohol, sontak aku tanya ke mbah M. Mbah sakit mboten? (mbah sakit apa tidak?) Dan jawabannya adalah : nggih sakit, tapi mboten nopo-nopo sing penting mantun (ya sakit, tapi gk apa-apa, yang penting sembuh). Mendengar jawaban itu, aku mencoba kesempatan yang kedua. Dan hasilnya gagal lagi. Saat aku tanya lagi, mbah M pun menjawab dengan jawaban yang sama dna bahkan melempar senyum pada kami. Kepolosan mbah M dan jawaban yang diucapkannya membuatku merasakan betapa sungguh beruntungnya aku. Dalam proses mencobaku yang akhirnya gagal tidak kemudian membuat mbah M kecewa dengan apa yang aku lakukan. Mbah M begitu pasrah menerima apa yang terjadi, aku pun menjadi semakin yakin bahwa selama niat baik yang menjadi dasar. Maka segala sesuatunya pun akan menjadi baik pula, meskipun hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Tapi proses yang kemudian membuat hasil itu menjadi bukan satu tujuan primer, melainkan sebuah akhir dari satu proses yang dilandasi niat baik. Selama mempraktikan nasehat “mau untuk mencoba” pun aku menjadi semakin memandang aspek bahwa yang menjadi objek tindakan adalah manusia yang akan merespon berbagai bentuk stimulasi yang diberikan. Respon yang dimunculkan pun akan berbeda-beda, tidak dapat diprediksi.

Dan pada akhirnya, mau untuk mencoba adalah satu keharusan bagi siapa saja yang ingin bisa (tidak hanya sekadar tahu).

#setelah sift pagi di dahlia : bangsal bedah

Thursday, April 12, 2012

Berganti ruang, berkutat dengan GB di Menur

Perjalanan terus berlanjut di Menur. Ruang kelas 1 dan 2, isinya pasien bedah, dari mulai kasus KKL sampai penyakit dalam seperti BPH dan kawan-kawan. Beruntung bagi yang sift pagi, karena kebagian tindakan GB alias ganti balut,hehe Aku pun terbiasa sarapan pagi dengan buka luka dan bersihin luka. Sayangnya tidak ada satu pun pasien yang menderita luka hari, yang butuh di GB,hehe Adanya luka operasi, amputasi, sampai luka infeksi yang penuh dengan cairan berwarna hijau dengan aroma khasnya. Lokasi lukanya macem-macem, ada yang di kepala, dada, kaki, tangan sampai pada bagian genital.

Yang baru, tentang tampon

Ada beberapa pasien yang terpasang tampon dibagian yang luka. Tampon itu berbentuk tali panjang dari kasa gulung steril yang dimasukkan ke dalam luka pasien. Biasanya di pasang pada luka yang berlubang untuk menutup bagian yang berlubang. Keterampilan menggunakan pinset akan membantu pemasangan tampon. Dan oh ya, jangan lupa menganjurkan pasien untuk melakukan teknik relaksasi bisa nafas dalam atau teknik yang lain. Karena sakinya luar biasa.

Bolak-balik IBS

Selain GB dan tindakan yang lain, rutinitas lain sift di Menur adalah bolak-balik IBS. IBS itu instalasi bedah sentral atau tempat operasi pasien. Semakin banyak paien di Menur maka semakin sering juga bolak-balik ke IBS, baik nganter pasien operasi atau nganter pasien ke ruangan lagi setelah operasi. Jarak IBS ke Menur itu dari ujung ke ujung, bisa dibayangkan capeknya seperti apa,hehe

Rutinitas yang lainnya hampir sama dnegan ruang lain, mulai dari bongkar pasang infus sampai proses dokumentasi status pasien,...

Menur : ruang kelas 1 dan 2, pasien bedah.

Pagi haru, di lavender

Minggu pagi yang haru iringi langkah meninggalkan lavender. Sedikit bercerita, lavender adalah ruangan pertamaku praktik di rumah sakit. Semua yang ada disana adalah hal pertama buatku. Apa yang terjadi disana adalah pelajaran pertamaku. Karena serba pertama, tak jarang aku merasa seperti bayi yang tidak tahu apa-apa,hehe

Banyak hal dari yang lucu sampai yang membuat kesal ada disana. Lavender benar-benar memberikan kesan pelangi buatku. Puncaknya saat hari terakhir aku sift disana. Serasa ada yang hilang. Serasa ada yang menstimulasi air mataku untuk keluar.


lavender : ruang penyakit dalam dan syaraf

Saturday, April 7, 2012

Sepenggal cerita, seminggu di Lavender

Hari ini, hari ke-7 pendidikan ners yang kujalani. Banyak hal yang terjadi dan dapat menjadi pelajaran berharga, bahkan lebih berharga ketimbang nilai akademik. Pelajaran itu datang dari apa yang selama 7 hari ini kulihat, kudengar, kulakukan, sampai pada apa yang kurasakan sendiri. Betapa sungguh seperti ini pekerjaan perawat. Profesi yang saat ini menjadi pilihanku.

Tentang rutinitas

Pelajaran pertama yang kudapat adalah tentang waktu. Saat kuliah, waktu 24 jam terbagi untuk duduk di kelas mengikuti kuliah 4-5 sks tiap harinya dan mengerjakan tugas (jika ada). Banyak waktu senggang yang bisa dimanfaatkan, untuk ikut organisasi, misalnya, tidur siang, main futsal, main games atau bahkan jalan-jalan. Berbeda dengan itu, di pendidikan ners ini, 24 jam terbagi menjadi 3 sift, pagi siang malam. Pagi mulai pukul 07.00, siang mulai pukul 14.00, malam pukul 21.00. dan aku masuk dalam rutinitas jadwal itu, kadang sift pagi, kadang siang, kadang malam sesuai jadwal. 8 jam sift di rumah sakit, berbeda jauh dengan 8 jam saat menjalani masa-masa kuliah di akadmeik. Beban kerja, lingkungan dan rutinitas menjadi faktor pembedanya.

Rutinitas di waktu pergantian sift ada yang namanya operan, dimana penjelasan mengenai pasien dari A sampai Z dibacakan. Kunjungan ke masing-masing kamar adalah rutinitas kedua setelah menjalani operan. Setelah proses itu selesai, barulah pekerjaan lain dimulai. Satu persatu tempat tidur pasien di cek, obat-obat di berikan, memeriksa pasien dilakukan mulai dari TTV sampai pada apa yang dikeluhkan pasien.

Selesainya kunjungan dari pasien, pekerjaan tulis menulis menunggu. Setiap tindakan yang dilakukan harus terdokumentasikan dalam satu map yang bernama status. Status berisi catatan yang berisi data dasar, nota-nota resep, hasil pemeriksaan lab, rontgen, usg sampai perkembangan pasien dari mulai datang sampai hari terakhir pemeriksaan. Data di status harus lengkap, selain sebagai catatan perkembangan juga sebagai bentuk tanggung gugat jika ada hal yang tidak diinginkan menimpa pasien.

Hampir tiap harinya, hanya sedikit tersisa waktu untuk istirahat. Bahkan saat pertama sift malam, aku hanya bisa tidur 30 menit saja. Selain karena silih berganti pasien yang mengeluh tentang infus dan lain-lain, juga karena lingkungan rumah sakit yang masih baru buatku. Semua perlu penyesuaian dan keyakinan. Tentang waktu, pintar-pintarlah untuk memanfaatkannya. Terlebih bagi mereka yang menuju proses untuk praktik di rumah sakit sepertiku.

Tentang ruanganku

Ruang tempatku praktik saat ini adalah lavender, ruang kelas 3 yang merawat pasien dengan penyakit dalam dan syaraf. Jika penuh, maka ada 30 pasien yang harus dikelola 24 jam penuh. Untuk mengelola sejumlah itu, hanya ada 3-4 perawat yang jaga tiap sift. Ada 1 tenaga administrasi dan 1 asper yang membantu. Jadi secara rata-rata, 1 perawat mengelola sekitar 7-8 pasien. 1 pasien bisa ada 1 bahkan sampai 5 anggota keluarga yang menemaninya. Mungkin masih belum ramai di banding rumah sakit lain yang punya kuota pasien lebih banyak. Namun sejumlah itu saja sudah cukup ramai menurutku. Dan membuatku dan praktikan lain tidak banyak punya waktu istirahat tiap sift-nya.

Liat jam

Dan tak terasa udah jam 10.00 masih ada laporan askep yang harus di print, LP yang harus dikerjakan. Masih banyak yang belum diceritakan, tapi cukup segini dulu dah ceritanya. Kalau ada waktu senggang lagi, aku sempet-sempetin buat nulis dah.

(tetap semangat!!!)

Thursday, March 29, 2012

Do'a Kepaniteraan profesi ners angkatan 9

Hari ini kami baru saja mengucap janji mahasiswa ners. Sepanjang penyelenggaraan program pendidikan profesi ners, angkatan kami (ke-9) adalah angkatan dengan jumlah mahasiswa yang paling sedikit. Hanya 19 mahasiswa saja, terdiri dari 7 laki-laki dan 12 perempuan. Proses pendidikan profesi ners setahun ke depan adalah hal yang baru bagi kami. Kami sadar betul, akan ada banyak cerita yang akan mewarnai setahun ke depan proses pendidikan yang akan kami hadapi. Dan untuk itu, kami berdoa untuk kelancaran proses yang akan kami hadapi.

بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØ­ْمنِ الرَّØ­ِيمِ

Ya Allah Ya Ghofuru Ya Syakur

Hambamu yang jarang bertutur - Untuk mengucapkan rasa syukur
Datang kepadamu untuk menghatur - Puji dan Syukur
Atas segala nikmat yang telah Kau Atur

Kami sadar betul…….
Nikmatmu tiadalah terukur
Dan akan tetap mengucur
Walau kami terlelap di dalam tidur

Untuk itu jadikanlah kami ……
Makhlukmu yang tahu bersyukur
Sehingga kami selalu tafakkur
Dan bukan menjadi takabbur

Ya Allah Ya Qowiyyu Ya Aziz,
Jadikanlah hari ini sebagai awal yang baik bagi kami

Dalam memasuki pintu gerbang pendidikan profesi ners

Karena pada hari ini
Di Kampus keperawatan kami…
Calon perawat-perawat profesional di masa nanti….
telah mengucapkan janji
dengan menyebut atas namaMu

berikanlah kami kekuatan ;
berikanlah kami kesabaran ;
dan berikanlah kami keikhlasan;

untuk tetap berada pada jalur yang Engkau Ridloi
berjalan pada jalur yang mengayomi
dengan tidak melupakan realita kehidupan yang mengiringi

Dan agar ilmu yang kami dapatkan dapat bermanfaat,

Tidak hanya bagi kami,

Namun juga bagi orang disekeliling kami

Ya Allah Ya tuhan kami
Bukakanlah mata kami, telinga kami
serta hati kami

Agar mata kami dapat melihat,
telinga kami dapat mendengar,
dan hati kami dapat merasakan
apa yang terjadi di sekililing kami

Sehingga ketika kami menjalani pendidikan profesi ners ini
Segala keputusan dan tindakan yang kami lakukan
akan berdampak baik bagi kami, pasien, dan orang disekeliling kami

Ya Allah,

Berikanlah kami kemudahan dalam melaksanakan proses pendidikan profesi ini …..
Karena Engkau adalah Dzat yang dapat memudahkan segala yang sulit.
Pemberi jalan keluar dari setiap kebuntuan….
serta mencairkan segala kebekuan…..

Ya Allah, Ya Tuhan Yang Maha Pengampun
Tak Jemu Kami Mengadu Dan Mengaduh Pinta,
Tak Enggan Kami Tadahkan Tangan
Memohon Do’a, Rahmat Dan Ampunan-Mu
Yang Senantiasa Selalu Kami Dambakan
Dan Harapkan Daripada-Mu Ya Allah,

Untuk Itu Ya Allah
Ampunilah Dosa Dan Kesalahan Kami,
Dosa Dan Kesalahan Kedua Orang Tua Kami
Serta Dosa Dan Kesalahan Guru-Guru Kami,
Terimalah Do`A Dan Pinta Kami ini.